Makna Hardiknas, Ketua PMII Rayon FAI UMI : Pendidikan Harus Memanusiakan Manusia

  • Whatsapp
Ketua Rayon PMII FAI UMI, Subhan Ndolu

MAKASSAR, NARASIBARU.com – Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) diperingati setiap tahunya pada tanggal 2 Mei.

Hal itu tidak terlepas dari jasa jasa pelopor pendidikan taman siswa dan tokoh pahlawan nasional yakni Ki Hadjar Dewantara.

Hardiknas tiap tahun diperingati dengan berbagai variasi, Ada yang melaksanakan upacara pengibaran bendera, membuka ruang diskusi soal pendidikan, hingga aksi massa menuntut untuk terwujudnya pendidikan yang dapat memerdekakan manusia.

Hingga menuntut terwujudnya pendidikan gratis seperti yang dijanjikan dalam Undang-undang 1945 Pasal 31 Ayat 1 dan 2, serta realisasi pendidikan yang ilmiah.

Seperti halnya yang dirasakan, Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Subhan Ndolu.

Menurutnya peringatan hardiknas adalah momentum untuk mengingat kembali perjuangan bapak pendidikan Nasional kala itu.

“Makna hardiknas sebagai momentum untuk mengingat kembali perjuangan Bapak pendidikan Nasional (Ki Hadjar Dewantara) dalam mewujudkan pendidikan yang memerdekakan manusia atau pendidikan yang berkemanusiaan,” kata Cureng, sapaan akrabnya, kepada Narasibaru.com, Sabtu (02/4).

Menurut Cureng, jika melihat realitas pendidikan saat ini, pendidikan dijadikan ladang keuntungan dan langkah untuk menciptakan tenaga kerja baru dalam setiap usaha industri.

Hal tersebut dapat dilihat pada jurusan yang ada baik di sekolah maupun disetiap perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

“Ini dapat kita perhatikan bagaimana doktrin yang terbangun di tengah masyarakat untuk menyekolahkan anaknya, agar anaknya mendapatkan pekerjaan yang layak,” ungkapnya.

“Pendidikan diarahkan menjadi percetakan tenaga kerja baru. Jika kita mengingat, hal ini sungguh jauh dari harapan tokoh pendidikan Indonesia yang menjadikan pendidikan sebagai sarana memanusiakan manusia,” tambah Cureng.

Ia juga mengungkapkan, ditambah lagi minggu terakhir, di tengah masa pandemi covid-19 sejak awal himbauan pemerintah untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dari rumah hingga kini memunculkan banyak problem di kalangan peserta didik khususnya Mahasiswa.

“Problem tersebut lahir dari keluhan mahasiswa dengan hadirnya kuliah daring, dari kurangnya jam istirahat peserta didik yang diakibatkan menumpuknya tugas, jam pertemuan atau perkuliahan online yang tidak teratur, minimnya subsidi lembaga pendidikan untuk memenuhi proses belajar mengajar berbasis online,” tuturnya.

Olehnya itu, kata dia, dari persoalan tersebut sehingga melahirkan protes mahasiswa untuk menuntut agar instansi terkait menggratiskan biaya penyelenggaraan pendidikan (BPP), sebagaimana yang mereka bayar setiap semesternya.

Selain itu, lanjut dia, di tengah wabah virus corona ini juga, dengan mayoritas orang tua siswa atau peserta didik yang berprofesi sebagai tenaga pekerja (Buruh) yang saat ini di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) secara sepihak tentu berdampak besar pada ekonomi keluarga.

“Kehilangan pekerjaan orang tua akan merambat hingga keberlangsungan pendidikan seorang anak. Hal tersebut akan memicu semakin besarnya peserta didik yang di Drop Out (DO) dan putus kuliah karena tidak dapat melanjutkan pembayaran uang perkuliahan,” pungkasnya. (Saddam)