Milenial, Generasi yang Seperti Apakah Dirimu?

NarasiBaru.com – Kaum Milenial seringkali dipuji, sebagai generasi yang dapat menghantarkan cita-cita bangsa, untuk tiba di titik yang diharapkan. Namun, jumlah mereka yang semakin membludak juga bukanlah kabar yang begitu baik. Mengapa? Milenial, kata yang digunakan untuk menggambarkan generasi muda saat ini. Mereka dianggap aset bangsa, tidak sedikit orang menaruh harapan akan kontribusi mereka bagi kemajuan bangsa.

Milenial dianggap sebagai sumber daya manusia yang paling efektif, tentu pada bidangnya masing-masing. Selain itu, pengetahuan mereka berkembang dan didukung kemampuan di bidang teknologi, energik, serta tak sedikit yang menyukai tantangan. Gambaran-gambaran yang begitu optimis.

Karena hal tersebutlah, kerap kali kaum milenial terseret ke dalam arus politik. Mereka digunakan untuk menarik simpati masyarakat, bahkan menjadi jargon banyak partai. Beberapa di antara mereka juga kian sukses menjalankan profesinya. Atta Halilintar misalnya, salah satu Youtuber dengan Subscriber tertinggi se-Asia Tenggara. Atas pencapaian tersebut, kini Ia dianggap sebagai tokoh milenial. Serta tentu saja masih banyak nama lain yang akan menjadi daftar panjang jika disebutkan satu persatu.

Pertanyaannya, apakah dengan kemunculan mereka di paltform-platform online sudah cukup mewakili keadaan kaum milenial secara keseluruhan? Tentu tidak. Kenyataannya, masih banyak milenial di sekitar kita yang hanya mampu membeli rokok batangan, lebih suka rebahan, juga masih menumpang wi fi teman agar dapat sekadar memuat foto di media sosialnya.

Kemudian, jelang akhir 2019 hingga 2020, demonstrasi besar-besaran terkait penolakan RUU Cipta Kerja terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Mereka yang bergerak sebagian besar adalah kaum milenial. Sayangnya, dari sudut pandang seorang Megawati Soekarno Poetri, hal tersebut tidak dianggap sebagai kontribusi kaum milenial terhadap negara. “Apa sumbangsih kalian terhadap bangsa dan negara ini? Masak hanya demo saja,” kata Megawati, dikutip dari laman tempo.co, Rabu, 28 Oktober 2020 lalu.

Megawati lupa, bahwa pada 1998, kontribusi mileniallah yang kemudian mendudukkannya di kursi Wakil Presiden. Seperti kata Rachland Nasidik yang dikutip dari laman merdeka.com. “Ibu Mega bisa jadi Wapres di masa reformasi karena demonstrasi mahasiswa berhasil memaksa Soeharto lengser. Jadi Ibu Mega harusnya memelihara rasa terima kasih dan penghargaan kepada gerakan Mahasiswa berikut gerakan moral yang dilakoni mereka,” kata salah satu Politisi dari Partai Demokrat tersebut.

Jumlah Milenial yang Membludak adalah Masalah Baru

Terkait pro dan kontra antara Megawati dan Rachland Nasidik sebelumnya, saya tidak berupaya membela keduanya. Akan tetapi, mari menelaah semua kembali ke masa sekarang, di mana pernyataan mereka ada benar, pun ada salahnya. Memang, kaum milenial saat ini tidak bisa serta merta dikatakan tak memiliki kontribusi terhadap negara, namun bukan berarti pula itu otomatis menyelesaikan persoalan terkait mereka. Karena hari ini, masih banyak mahasiswa perguruan tinggi yang menghabiskan waktunya di pos ronda hanya untuk bertukar chip. Jika “beruntung” sebagian kecil dari mereka bisa menjadi honorer, di sebuah lembaga, dengan berharap gaji triwulanan yang jumlahnya kurang dari Rp1,5 juta.

Ada juga kaum milenial yang juga berhasil menduduki jabatan di partai politik, kok, seperti politisi muda di Jeneponto. Sayangnya, Ia lebih dikenal karena laporan pacarnya yang sedang hamil ketimbang prestasinya. Miris sekali. Kaum milenial seringkali dipuji, sebagai generasi yang dapat menghantarkan cita-cita bangsa, untuk tiba di titik yang diharapkan. Namun, jumlah mereka yang semakin membludak juga bukanlah kabar yang begitu baik. Mengapa? Karena sebagian besar kaum milenial lebih memilih mencari kerja, dibanding menciptakan lapangan kerja sendiri.

Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah pendaftar di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar yang mencapai sekitar 1200 orang. Selain itu, melalui kompas.com, diprediksikan pendaftaran CPNS tahun 2021 akan mencapai sekitar 5 juta pendaftar. Mereka semua masih tergolong sebagai milenial.

Mereka yang kemudian lulus, akan menjadi tenaga kerja dan diatur sesuai kebijakan lembaganya masing-masing. Inikah makna sebenarnya dari “milenial adalah aset bangsa”? Di mana mereka tak lebih dari objek yang dapat dipekerjakan sesuai kebijakan yang diinginkan pemerintah. Bukankah mereka adalah generasi yang menyukai tantangan dan kebebasan berekspresi? Bagaimana dengan mereka yang tak lulus CPNS? Kemungkinan besar akan kembali menganggur sembari menunggu lowongan kerja berikutnya terbuka. Jika tak mau menunggu, ya jadi honorer dengan gaji triwulan.

Cita-cita dan Tantangan Milenial

Setiap orang tentu mempunyai cita-cita. Tampaknya mudah memiliki cita-cita, seperti halnya seorang mahasiswa yang mengkritik pemerintah melalui orasinya, atau yang berdiskusi kemudian dengan mudah memberikan saran. Namun setelah lulus, dan bergabung dalam pemerintahan, mereka sendiri tidak mampu melakukan apa-apa.

Ini satu kelemahan yang terdapat pada generasi milenial, yakni kalau sudah tahu, mereka merasa sudah melakukan “sesuatu”. Padahal sekadar “tahu” itu masih mempunyai jarak yang cukup jauh dengan sebuah tindakan nyata.

Beberapa hal yang seringkali menjadi tantangan bagi generasi milenial, yakni ketiadaan modal pendukung yang dapat menghubungkan antara gagasan dengan tindakan nyata. Untuk tiba pada sebuah titik capaian bukanlah sesuatu yang mudah jika tak memiliki modal yang baik berupa keahlian, pengetahuan, relasi, ekonomi, dan lainnya. Sebab semua itu merupakan faktor penting untuk mewujudkan sebuah rencana.

Penulis: Dita Pahebong

You May Also Like

About the Author: Fatma Fatima